“Pagi-pagi kami sudah berdiri di Teluk Jantang, lalu menjelang siang kami menyusuri pantai Saney, sore harinya kami berlari melihat sang mentari terbenam di pantai Babah Kuala”

“Tapi bila malam menuju peraduan, tetap saja wajah mantan yang ada di pelupuk mata”

“Owalahhh… kok ngenes sih mblo…”

Hallo sahabat lasak, itu tadi curhatan sahabat saya ya, maklum dia dulunya bucin, jadi begitu putus langsung suntuk, cengeng dan lebay. Tapi kalau di Banda Aceh, gampang kok menghilangkan rasa suntuk. Tidak perlu pergi ke tempat dugem seperti di kota-kota besar. Kami hanya pergi ke pantai dan rasa suntuk pun akan hilang. Pantai sudah menjadi bagian dari keseharian kami di Banda Aceh.

Nah, cerita lasak kali ini tentang keseruan kami seharian melepas rasa suntuk dengan menyusuri pantai barat di kawasan Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam.

Hampir tiap malam kami menghabiskan malam dengan secangkir Sanger di Kuta Alam Kupi, kedai kopi pavorit kami. Bahasan kami tak jauh-jauh dari rencana perjalanan wisata kami di Aceh. Kali ini yang menjadi incaran adalah pantai Teluk Jantang. Sebenarnya Teluk Jantang dibkenal sebagai tempat nelayan menarik pukat. Pernah viral video nelayan pukat tradisional setempat berhasil menagkap ribuan ikan  Giant Trevally. Videonya bisa kita lihat pada tautan di bawah ini :

👇👇👇

Viral Nelayan Jantang dengan ribuan ikan GT



Tapi yang menarik perhatian kami kali ini bukan nelayan tarik pukat, melainkan sebuah pantai yang berada di balik tebing Teluk Jantang. Konon pantai ini kembali dibuka, setelah sebelumnya sempat ditutup untuk umum karena khawatir jadi tempat maksiat. Akhirnya saya, Yasir, Awi, Akhyar dan Arga, sepakat menjelajahi hidden beach di Teluk Jantang. Bagaimana perjalanan kami? Apa iya cuma pergi ke Teluk Jantang?  Yuk ikuti cerita saya :).

Teluk Jantang

Sahabat lasak, sebelum memulai perjalanan, kami singgah di Taufik Kupi, simpang Dodik. Kedai ini sering kami jadikan lokasi titik kumpul. Selain lokasinya strategis, sarapan dan kopinya sangat nikmat.

Seperti biasa, kami mengendarai sepeda motor dalam setiap perjalanan. Tujuan kami, langsung menuju Teluk Jantang. Teluk Jantang ini jaraknya +- 48 km dari kota Banda Aceh. Jalan yang kami lalui adalah jalan lintas barat Sumatra, Banda Aceh – Lhoong. Perjalanan ini kami tempuh dalam waktu +- 1 jam.

Sesampainya di lokasi, kami langsung melapor ke pos penjaga. Harga tiket masuk adalah Rp. 5.000,- /orang. Lalu tiket parkir sepeda motor Rp  5.000,- /sepeda motor. Setelah membayar, kami langsung menuju pantai Teluk Jantang yang ada di balik bukit. Untuk menuju ke sana, kami harus melewati sungai yang dalamnya sampai selutut.

S etelah menyusuri sungai dan mendaki tebing bukit, kami akhirnya sampai di pantai Teluk Jantang. Oiya, tak disangka kami bertemu dengan Bahrizal, kenalan kami yang juga suka menjelajah dengan komunitasnya yang bernama Aceh Vacation. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan kami.

Pantai Teluk Jantang sangatlah indah. Meski pantainya tidak terlalu luas, tetapi pantai ini mempunyai pemandangan yang lengkap. Padang ilalang, pohon nyiur, pantai, pasir yang putih serta tebing batu, semuanya bersatu dalam bingkai lukisan alam.

Baca juga : Tuwi Tadui, Green Canyon di Pedalaman Padang Tiji

Padang Ilalang

Padang ilalang inilah yang kita jumpai begitu tiba di pantai. Rumput ilalang yang hijau dengan latar belakang pohon nyiur menjadi salah satu ciri khas pantai Teluk Jantang. Tapi kita harus berhati-hati karena menurut warga, di dalam ilalang ini banyak sarang ular. Karenanya ilalang ini sering dibakar warga.

Alhamdulillah saat kami datang ilalang sedang hijau-hijaunya dan kami aman tak berjumpa ular.

Pantai Teluk Jantang

Setelah melewati padang ilalang, kita langsung menjumpai pantai. Pantai ini sangat tenang. Ternyata pantai ini cukup ramai. Tampak oleh kami beberapa pengunjung yang sedang asik bersenda gurau di tepi pantai.

Di pantai ini banyak juga yang camping. Tapi saat ini yang boleh camping hanya laki-laki. Pantai ini juga diawasi oleh penjaga, supaya tidak menjadi tempat pacaran.

Tebing Teluk Jantang

Setelah puas memandangi pantai, selanjutnya kami naik ke atas tebing batu. Di atas tebing ini kami istirahat sambil berteduh. Pemandangan dari atas tebing inilah yang menjadi view terbaik. Di sini kita bisa memandangi seluruh penjuru Teluk Jantang.

Tebing Teluk Jantang ini sering dijadikan tempat memancing. Dari atas ini memang tampak oleh kami beberapa kelompok ikan berlalu lalang.

Sayangnya tidak semua sisi Teluk Jantang ini indah. Di beberapa tempat, kami menemukan banyak sekali sampah plastik sisa makanan dan minuman. Mungkin ada oknum pengunjung yang kurang peduli menjaga kebersihan pantai. Sambil melangkah pulang, Akhyar dan Yasir mengutip sampah dan mengumpulkannya di tempat sampah.

Sahabat lasak, tadinya rencana kami hanya ingin mengunjungi Teluk Jantang saja dan menghabiskan waktu di pantai ini. Tetapi Bahrizal mengajak kami ke lokasi lainnya, yaitu pantai Saney di Lhoong. Tentu kami tak menolak ajakan ini.

Baca juga : Ketika Samosir Berselimut Kabut

Pantai Saney

Belum jauh kami berjalan meninggalkan Teluk Jantang, tiba-tiba hujan turun. Tapi kami terus melanjutkan perjalanan . Pantai Saney ini lokasinya tidak terlalu jauh dari Teluk Jantang. Kira-kira jaraknya hanya +- 8 km saja. Tak sampai 15 menit, kami pun sampai di pantai Saney.

Pantai Saney lebih luas dari pantai Teluk Jantang. Pasir pantainya berwarna kecoklatan. Di sepanjang pantai, banyak kami jumpai kotoran kerbau dan sampah rumah tangga. Pantai ini memang tidak dikelola sebagai tempat wisata, tetapi tempat nelayan setempat melabuhkan perahunya.

Kami terus mengendarai sepeda motor di tepi pantai. Sesekali sepeda motor kami kepater di dalam pasir. Dari kejauhan, tampak gerombolan kerbau yang berendam di dalam muara. Kawasan pantai Saney ini memang memiliki muara yang cukup luas dan dikenal sebagai tempat mengembalakan kerbau. Hujan yang terus turun tidak menyurutkan kami untuk berjalan mendekati puluhan kerbau yang sedang asik berendam di dalam muara.


Kerbau-kerbau ini awalnya tak terusik melihat kedatangan kami. Tetapi seketika mereka berlari ke daratan ketika kami berteriak memanggil-manggil kerbau. Bukannya mendekat, justru para kerbau menjauh.

Seiring kerbau meninggalkan muara, kami pun pergi meninggalkan pantai Saney. Tujuan kami selanjutnya adalah kembali ke Banda Aceh.

Sunset di Pantai Babah Kuala

Sahabat lasak, sebelum meninggalkan Lhoong, kami singgah ke ladang petani Semangka. Petani ini kenalan baik Bahrizal. Maksud kami singgah tentunya hendak membeli semangka. Kebetulan sekali semangka baru di panen. Beruntung kami bisa gratis makan semangka sepuasnya dan membeli beberapa buah semangka dengan harga yang lebih murah.
Sihiy !!!

Dengan membawa sekarung Semangka, kami kembali ke Banda Aceh. Tapi dalam perjalanan, cuaca kembali cerah. Melihat hal ini kami memutuskan untuk singgah melihat sunset di pantai Babah Kuala. Pantai ini dikenal sebagai salah satu tempat terbaik melihat matahari terbenam.

Pantai Babah Kuala berada di Lampuuk, Lhoknga. Pantai ini dulunya tempat bermain surfing turis mancanegara. Tetapi akhir-akhir ini dibuka untuk umum dan banyak dikunjungi wisatawan lokal.

Tak mau ketinggalan moment, kami memacu kendaraan lebih kencang. Tak hanya itu, sesampainya di pantai, kami harus berlari demi sang mentari. Dan begitu kami sampai, drama tenggelamnya mentari terlihat dengan indah.

Sahabat lasak, senja berganti malam. Seharian menjelajahi pantai tidak membuat kami lelah. Kami tetap menghabiskan malam dengan secangkir Sanger di Kuta Alam Kupi, kedai kopi pavorit kami. Bahasan kami tak jauh-jauh dari rencana perjalanan wisata kami selanjutnya.

Minggu, 03 Mei 2020

” Selama pandemi virus Covid-19, jangan lasak dulu ya, di rumah lebih baik”

Kaki Lasak : Travel & Food Blogger




 



Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Kaki Lasak
Instagram kaki lasak
Website : kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131