“Peu Haba Sahabat Lasak?”

Sengaja saya menyapa dalam bahasa Aceh, karena cerita pembuka di awal tahun 2020 ini tentang perjalanan saya di Aceh. Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat tahun baru 2020, harapan kita semoga tahun ini akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Turut berduka juga atas musibah banjir yang melanda Jabodetabek, semoga air segera surut dan pemerintah segera mencari solusi untuk mencegah banjir tidak terjadi lagi. Untuk saudara-saudara saya yang tertimpa musibah, semoga diberi kesabaran ya. Amiin.

Banjir dan Sungai

Pernah gak sahabat lasak mendengar atau membaca sebuah penyataan bahwa “Penyebab bajir adalah meluapnya sungai “A”. Pernyataan tadi tidak sepenuhnya salah, meski kesannya menyalahkan si Sungai. Kalau kita runutkan lagi, kenapa sungai bisa meluap hingga menyebabkan banjir disaat musim hujan tiba? Tentu karena ada yang salah atau tidak seimbang dalam ekosistem kita. Bisa jadi hutan sudah gundul, bisa juga karena kita yang tinggal di tepian sungai.

Mungkin kita semua tau kalau fungsi utama sungai adalah mengalirkan air ke laut. Saat musim hujan tiba, air sungai tentu akan meluap. Jika air sungai tidak mengalir dengan lancar dan resapan air kurang maka terjadilah bencana banjir . Manusia dengan kemajuan teknologi dan kebutuhannya sebenarnya bisa mengendalikan air sungai. Misalnya dengan membuat bendungan atau merekayasa cuaca. Tapi kadang hal penting tersebut baru disadari jika bencana melanda.

Sahabat lasak, ini hanya intermezo saja ya. Saya akan lanjut ke cerita perjalanan saya ke sebuah sungai yang dalam bahasa Aceh di sebut “Krueng“.

Mendadak Ngetrip dong 🙂

Kenapa gak ngajak-ngajak?
Wah, curang ga mampir?
Kapan kesana lagi? Saya mau ikut!

Begitulah kurang lebih lontaran – lontaran kalimat yang menyapa saya setibanya saya dari Lhok Kruet, Aceh Jaya. Betapa tidak, seharian saya menghilang dan tiba dengan postingan sebuah sungai yang “saat itu” sedang hit!. Alhasil kawan-kawan pada kepo dong :).

Meski jawaban saya terkesan klise, tetapi memang begitulah adanya. Tanpa ada firasat, tetiba kak Nuu mengajak saya ke kampungnya di Lhok Kruet, Sampoiniet, Aceh Jaya. Apa hal? Mau tukar mobil ujarnya. Saya tidak sendiri, ikut juga dua sahabat saya Yasir dan Moli. Kami bertiga tak ada yang pandai nyetir loh, jadi kami hanya menemani. Dan kami pun berangkat meninggalkan kota Banda Aceh. Oiya sahabat lasak, kak Nuu ini berjuluk “Perempuan Pemburu Darah” di Aceh. Seorang aktivis kemanusiaan yang sangat menginspirasi. Lebih jauh tentang beliau bisa di baca di sini ya 👇👇👇 :

Media Indonesia : Nurjannah Husein

Dan juga tentang organisasi perempuan hebat ini, bisa di baca di sini 👇👇👇 :

Darah Untuk Aceh


Lanjut…
Selama perjalanan, banyak obrolan ringan yang seru dan lucu, termasuk juga update tempat-tempat wisata yang ada di Aceh. Dan yang membuat saya senang adalah rencana kami yang sepulangmya nanti, akan singgah ke sebuah sungai berbatu yang sedang menjadi buah bibir di kalangan nature lover Aceh. Yeay !

Source : Google Map

Setibanya kami di rumah kak Nuu, saya terperangah melihat keindahan sebuah sungai atau dalam bahasa Aceh disebut Krueng. Sungai ini berada di dekat rumah kak Nuu. Jembatan, perahu, nelayan, mangrove berpadu dengan kelembutan sapaan angin. Pemandangan sederhana tapi luar biasa.


Setelah melepas penat, kami bersiap untuk makan siang. Menu yang kami santap pun tak kalah luar biasa. Gulai Pliek U Cue, siput sedot yang dimasak kuah Pliek U khas Aceh. Cue atau Siput sungai berbentuk runcing ini memang banyak sekali di temui di sungai-sungai Aceh. Sahabat lasak, makan siang kami pun sangat meriah dengan adanya suara-suara bising dari mulut kami yang menyedot siput ini.

Inilah makan siang kami, dengan menu utama sayur khas Aceh “Pliek U Cue*. Siput ini banyak terdapat di tepian Krueng No. Tentang Pliek U Cue ini, kelak akan saya tulis terpisah ya.


Perut sudah kenyang dan urusan tukar menukar mobil sudah selesai. Kami pamit dan lanjut ke plan yang sejak awal saya tunggu-tunggu, yaitu main ke sungai. Cihuy 🙂

Batee Meuhampa

Sebenarnya kami berempat belum ada yang pernah ke sungai ini. Hanya bermodal nekat dan info dari tetua kampung, kami melaju ke KM 102. Mobil telah di parkir dan kami bergegas berjalan menyusuri jalan setapak. Lets get lost lah ceritanya.

 

30 menit berlalu, jalan yang kami lalui semakin lama semakin sempit dan bahkan hilang tertutup semak belukar yang setinggi dada kami. Sejenak kami berhenti dan sepakat agar Yasir terlebih dahulu mencari jalan. Kami duduk terdiam, hingga akhirnya terdengar suara Yasir menggema si tengah kesunyian, “Woiii… kemarilah, kita sudah sampai !!”. Sontak kami bertiga berdiri dan langsung menuju arah suara Yasir. Benar saja, kami telah sampai, tetapi baru di tepian sungai, bukan di tempat seperti yang kami lihat di foto-foto orang yang pernah datang kemari. Hmn…, kami sepakat untuk terus berjalan menyusuri batu-batu besar di tepi sungai. Tak jarang kami harus mendaki batu yang basah dan licin.

Sahabat lasak, peluh kami mulai membasahi badan. Tapi semangat kami tidaklah pudar. Hingga akhirnya kami saling berpandangan dan tersenyum gembira, karena kami telah sampai pada tujuan. Inilah yang kami cari, sebuah tempat tersembunyi yang sangat eksotik. Aliran sungai kehijauan yang di apit oleh bebatuan alami. Sebuah lukisan alam ciptaan Tuhan yang maha sempurna.



“Batee Meuhampa” demikianlah kak Nuu spontan menamakan tempat ini. Batu yang Terhampar, teruslah lestari karena kelak aku akan kembali lagi kesini.





*”Menceritakan kembali dari tulisan kaki lasak pada media Steemit, pada link berikut ini 👇👇👇 :””

Steemit : Hamparan Asa di Batee Meuhampa

Selasa, 07 Januari 2020

Lasaklah …  sebanyak,  sebisa dan sejauh mungkin,  karena hidup bukan diam di satu tempat”

#Kaki Lasak : Travel & Food Blogger





Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Kaki Lasak
Instagram kaki lasak
Website : kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131