“Laut apa yang airnya gak asin?”

“Mana ada bang, yang namanya air laut pasti asin, mungkin lidah abang aja yang sudah mati rasa, seperti cintanya kepadaku, hiks.. “

“Idihhhh… baper si kawan ini hahaha”

Pesona Aceh tidak hanya pantai-pantainya yang indah. Provinsi ini bisa dibilang mempunyai wisata alam yang komplit. Wajar jika ada yang bertanya : “Di Aceh ada wisata apa?”. Maka akan di tanya balik : “Kamu sukanya wisata apa?”. Di Aceh kamu bisa wisata religi, tsunami, budaya, hutan, gunung, air terjun, sungai dan danau. Salah satu kawasan wisata di Aceh yang cukup populer selain Sabang adalah dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Daerah yang dikenal sebagai penghasil kopi Gayo ini, nama ibu kotanya adalah Takengon. Kota sejuk yang berada di ketinggian +- 1.200 mdpl ini kaya akan destinasi wisata. Apa saja sih destinasi wisatanya? Yuk, ikuti cerita saya wisata sehari di Takengon.

Team Jalan-jalan

Perjalanan saya wisata sehari di Takengon ini bersama sahabat-sahabat saya yang datang dari Malaysia. Mereka adalah Amy, Najibah, Sufi dan Noorma.

1. Keliling Danau Laut Tawar

Takengon tidak bisa dipisahkan dengan danau Laut Tawar. Suku Gayo menyebut danau ini dengan nama Lut Tawar. Mungkin karena danau ini cukup luas seperti laut, sehingga disebut lut yang artinya laut. Danau dengan luas +- 5.472 Hektar ini besisian dengan kota Takengon. Danau ini sangat indah. Nah, jika kamu ke Takengon, rugi rasanya jika tidak mengelilingi danau.

Danau Laut Tawar

Mengelilingi danau Laut Tawar memakan waktu +- 1,5 jam. Tetapi biasanya kita akan singgah di beberapa tempat wisata, sehingga bisa memakan waktu sampai 2-3 jam. Selama mengelilingi danau Laut Tawar,  kami berjalan santai dan bebas berhenti, terutama jika ada pemandangan bagus, meski berada di tepi jalan.

2. Loyang Mandale

Saat perjalanan mengelilingi danau Laut Tawar, tempat pertama yang kami kunjungi adalah objek wisata arkeologi prasejarah Loyang Mandale. Di kawasan Ceruk Mandale ini ditemukan beberapa kerangka manusia prasejarah yang salah satunya berusia +- 6.500 tahun. Dari hasil uji DNA kerangka manusia tersebut, ternyata hasilnya identik dengan orang Gayo saat ini.

Loyang Mandale

Meski banyak cerita legenda yang menceritakan asal usul orang Gayo. Dengan adanya bukti ilmiah ini, maka suku Gayo merupakan salah satu suku tertua di nusantara.

Baca juga : Sambal Asam untuk Nila Bakar, Mantul !

3. Ujung Paking

Selanjutnya kami singgah di kawasan wisata Ujung Paking. Kawasan ini merupakan salah satu tempat wisata yang populer yang berada di tepi danau Laut Tawar. Kawasan ini menawarkan pemandangan danau dari atas bukit hingga ke tepi danau. Fasilitas yang disediakan juga lengkap, dari tempat parkir, gajebo, kantin, hingga mushalla.

Ujung Paking

Kawasan wisata Ujung Paking ini cukup luas. Energi kami cukup terkuras saat mengelilingi kawasan ini. Tapi segala kelelahan sirna begitu melihat betapa indahnya danau Laut Tawar.

4. Air Terjun Mengaya

Selain pemandangan danau, saat mengelilingi danau Laut Tawar, kita juga kan disuguhi pemandangan bukit dan hutan pinus. Jadi perjalanan tidak akan membosankan. Setelah melalui lebih dari separuh danau, kami menuju destinasi berikutnya, yaitu air terjun Mengaya. Pemandangan menuju air terjun ini didominasi oleh persawahan dan kebun kopi. Jalan yang dilalui cukup sempit, tetapi bisa kok di lalui oleh mobil. Setelah sampai di lokasi parkir, kita harus bejalan kaki mengikuti aliran sungai sejauh +- 1.5 km agar sampai ke air terjun Mengaya.

Air Terjun Mengaya

Segar, itulah yang kami rasakan begitu sampai di air terjun. Tampiasan air yang terbawa angin membasahi wajah kami. Air terjun Mengaya tidak terlalu tinggi, tetapi keindahannya membuat kami betah untuk belama-lama menikmatinya.

5. Pelabuhan Toweren

Puas menikmati air terjun, kami singgah di sebuah desa yang berada di tepi danau. Desa ini bernama Toweren. Di desa ini terdapat sebuah pelabuhan nelayan. Sebenarnya, tujuan utama kami adalah mencari ikan Depik yang menjadi ikan endemik khas danau Laut Tawar. Sayangnya kami tidak menumukan nelayan yang menjual ikan Depik. Menurut salah seorang nelayan, ikan Depik memang sudah tidak sebanyak dulu.

Meski tak berhasil melihat ikan Depik, kami sangat menikmati keindahan tepian danau di pelabuhan Toweren. Sejauh mata memandang, tampak hamparan danau yang sangat luas

Baca juga : Wisata Sehari, dari Tebing Lamreh hingga Puncak Geurutee

6. Desa One-one

Di Takengon, ada sebuah desa kuliner khas Gayo. Nama desa tersebut adalah desa One-one. Rute perjalanan kami memang sudah kami perkiraan untuk makan siang di desa tersebut. Ada banyak pilihan kedai makan di sepanjang jalan di desa One-one. Rata-rata menu makanan yang dijual dan harganya kurang lebih sama. Kami pun singgah di salah satu kedai tersebut. Pastinya makan siang kami kali ini sangat istimewa, karena menu masakannya khas Gayo.


Dibandingkan dengan masakan Aceh yang umumnya berempah dan berlemak, masakan suku Gayo tak bersantan, jadinya lebih segar. Ada gulai masam jing, lobster air tawar, nila bakar, sayur bening pucuk labu dan sambal  cecah terong belanda. Asli mantap kali.

7. Bur Telege – Gayo Highland

Setelah santap siang, perjalanan kami lanjutkan ke sebuah bukit yang menjadi icon kota Takengon. Bukit ini bernama Bur Telege atau Bur Gayo. Pada bukit inilah terdapat tulisan Gayo Highland yang bisa kita lihat dari kota Takengon. Dari bukit ini kita bisa melihat keindahan danau Laut Tawar dan kota Takengon dari ketinggian. Jalan menuju bukit sudah beraspal dan bisa dilalui oleh mobil. Kita harus ekstra hati-hati karena di sisi kanan adalah jurang dan pada beberapa bagian jalan ada yang berlubang. Sesampainya di parkiran, kita langsung disuguhkan pemandangan danau Laut Tawar dari atas bukit. Sungguh panorama alam yang sangat Indah.

Bur Telege

Untuk melihat kota Takengon dari atas bukit, kita harus berjalan kaki menuju sisi lain Bur Telege ini. Cukup menguras tenaga juga karena jalanan lumayan menanjak. Setelah berjalan +- 10 menit, sampailah kami pada icon Gayo Highland. Pemandangan kota Takengon yang bersisian dengan danau Laut Tawar, terlihat dengan indah dari atas bukit.

View Kota Takengon

8. Masjid Ruhama

Waktu salat zuhur tiba, kami turun dari gayo highland dan menuju masjid kebanggaan kota Takengon, yaitu masjid Ruhama. Masjid ini sudah terlihat sangat indah dari atas Bur Telege tadi. Masjid yang berdiri sejak tahun 1969 ini adalah masjid Raya kota Takengon. Masjid dengan daya tampung hingga 2000 jemaah ini lokasinya sangat strategis karena berada di tengah-tengah kota.

Desain masjid Ruhama bernuansa motif tradisional suku Gayo. Meski demikian, masjid ini tetap terlihat modern. Nuansa warna emas pada kubah masjid, membuat masjid ini semakin indah. Sensasi dingin sangat terasa saat air wudu membasuh wajah. Sejuk!

9. Aman Kuba Coffee

Penat mengelilingi danau dan mendaki bukit, saatnya bersantai di kedai kopi. Saya memilih sebuah kedai kopi yang bernama Aman Kuba Coffee. Pilihan ke kedai ini karena kedai mungil ini bersebelahan dengan kilang kopi Fa. H Aman Kuba. Kilang kopi ini bukan kilang kopi biasa. Kilang yang sudah di kelola oleh 3 generasi ini bagian dari sejarah panjang kopi Arabika Gayo. Dari kilang inilah kopi Arabika Gayo medunia.

Kilang Kopi Aman Kuba


Pekerja Kilang Kopi

Jadi, selain minum kopi Arabika Gayo, kita bisa belajar sejarah kopi Gayo dan cara pengolah kopi langsung dari kilang. Bang Ikrar sang pemilik kedai kopi, dengan senang hati akan bercerita tentang kopi sambil menani kita menikmati sedapnya kopi Arabika Gayo.

10. Panti Asuhan Kasih Ibu

Rasa kantuk pun sirna setelah tadi kami minum kopi Arabika Gayo. Agenda kami berikutnya adalah berkunjung ke panti Asuhan. Kunjungan ini merupakan permintaan khusus sahabat-sahabat saya. Dari Malaysia mereka membawa bantuan hasil sedekah perkumpulan mereka. Untuk itu saya membawa mereka ke panti asuhan Kasih Ibu. Panti asuhan ini menampung anak-anak yatim piatu dan bayi terlantar yang ada di Takengon dan sekitarnya. Saya ikut terharu menyaksikan kegembiraan anak-anak panti saat kami kunjungi.

Panti Asuhan

Kegiatan wisata sambil beramal ini sangat menginspirasi saya. Bagi Amy, Najibah, Sufi dan Noorma, kegiatan ini selalu mereka selipkan setiap pergi berwisata. Kegiatan berbagi ini menjadi obat hati dan menambah rasa syukur.

11. Pantan Terong

Masih ada lagi tempat wisata yang wajib dikunjungi jika ke dataran tinggi Takengon. Adalah Pantan Terong, sebuah bukit yang berada diketinggian 1.350 mdpl. Dari bukit ini, kita bisa melihat danau Laut Tawar secara utuh, kota Takengon, bandar udara Rembele, kota Bener Meriah, serta lapangan pacuan kuda di Takengon. Perjalanan menuju Pantan Terong memakan waktu +- 30 menit dari kota Takengon. Sepanjang jalan kita disuguhi indahnya perbukitan negri di atas awan dan perkebunan kopi Gayo.

Pantan Terong

Pantan Terong merupakan kawasan Agrowisata yang sangat populer di Takengon. Karenanya, kawasan ini tidak pernah sepi. Apalagi banyak tempat-tempat menarik untuk berswafoto.

12. Seladang Coffee

Hari menjelang senja. Tapi perjalanan kami belum berakhir. Ada satu tempat lagi yang menjadi agenda terakhir perjalanan kami hari ini, yaitu Seladang Coffee. Sebuah Coffee Shop dengan konsep minum kopi di ladang kopi.

Seladang Coffee

Seladang yang dalam bahasa Gayo berarti tempat menyimpan padi dimiliki oleh seorang aktivis lingkungan yang dipanggil bang Gembel. Lelaki gondrong yang sudah mempunyai 3 orang anak ini memang mempunyai konsep kedai kopi yang berbeda dari kedai kopi umumnya. Ia mendirikan Seladang Coffee di atas lahan kopi keluarganya. Kopi yang diracik pun dari hasil ladang kopi tersebut. BTW, bang Gembel ini ternyata orang pertama loh yang berenang melintasi danau Laut Tawar pada tahun 2004.

Di dalam bangunan sederhana yang artistik di Seladang Coffee, kita bisa menikmati aneka racikan kopi. Tidak hanya iti, sajian makanan dan minuman tradisional hingga modern pun ada. Bang Gembel dengan ramah akan menyapa kita dan bercerita tentang kopi Gayo serta konsep kedai kopinya. Kami sangat menikmati suasana kedai kopi ini. Duduk santai ditemani pemanas api yang menambah kehangatan suasana kami malam itu.

Menikmati suasana Seladang

Sahabat lasak, Seladang Coffee adalah akhir perjalanan kami hari itu. Perjalanan wisata sehari di Takengon ini mungkin bisa jadi acuan sahabat semua jika ingin berwisata ke kota Takengon, Aceh Tengah. Jika sahabat punya lebih banyak hari, tentu akan semakin banyak lagi tempat wisata yang bisa kita kunjungi.

Kamu bisa membaca wisata kami satu hari sebelumnya di kebun Apel Gayo milik pak Sis pada tautan ini : Apel Gayo – Apelnya Aceh

Sabtu, 25 Juli 2020

” Di masa normal baru, tetap jalankan protokol kesehatan “

Kaki Lasak : Travel & Food Blogger






Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Kaki Lasak
Instagram kaki lasak
Website : kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131