“Di sana memang banyak sekali ikan, besar-besar pula,  tetapi begitu ikan sampai ke rumah ada yang matanya hilang dan ikan menjadi busuk”

“Saat Tsunami dulu, banyak  korban di sana dan membusuk, angkerlah pokoknya”


Walah untung saja kami selamat dan alhamdulillah tidak kurang suatu apa. Cerita tadi kami dapat dari seorang bapak separuh baya yang kami jumpai di waduk Lambadeuk, tempat kami istirahat melepas penat setelah seharian menjelajahi sebuah pantai tersembunyi di Aceh Besar.


Sahabat lasak, biar gak penasaran dengan cerita saya di atas, dalam tulisan kali ini akan saya ceritakan bagaimana kami bisa sampai ke sebuah pantai yang berada di kawasan Gampong Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Aceh. Nama pantai ini adalah pantai Lhok Keutapang Cut.

Rencana Perjalanan

Desas-desus adanya hidden beach yang berada di kawasan gampong Lambadeuk, membuat kami penasaran. Secara lokasinya gak terlalu jauh dari kota Banda Aceh. Konon pantai tersebut mempunyai pemandangan yang indah dan merupakan  tempat pavorit para pemancing. Untuk mengobati rasa panasaran tadi, akhirnya kami yang notabene adalah pencinta alam kaleng-kaleng, memutuskan  untuk menjelajahi pantai Lhok Keutapang Cut. Seperti biasa, sahabat saya Yasir selalu bisa diandalkan untuk mencari informasi dan survei lokasi pantai Lhok Keutapang Cut ini. Begitu rute jalan serta pos pemberhentian sudah ia dapatkan. Kami langsung mengajak beberapa kawan untuk turut serta dalam ekspedisi kecil ini.

Saya, Yasir, Imam, Pitra, Al dan Khairul. Kami berenam yang akan berangkat menjelajah. Oiya, yang terakhir Khairul adalah sahabat saya yang berasal dari Kuantan, Malaysia. Kebetulan sekali ia datang ke Aceh dan langsung deh kami ajak menjelajah. Kami tidak berkemah, tetapi hanya pulang hari saja.

60 Menit Hiking di Hutan

Pagi yang cerah, secerah pancaran wajah kami yang telah berkumpul. Rute yang akan kami lalui adalah Banda Aceh, Uleelheue, Kuala Cangkoi, Ujung Pancu dan Lhok Keutapang Cut. Perjalanan menuju titik hiking memakan waktu kurang lebih 30 menit menggunakan sepeda motor. Dekat bukan? Bisa di bilang kawasan yang kami lalui adalah pinggiran kota Banda Aceh, jadi berbatasan langsung antara Aceh Besar dan Banda Aceh.

Selama perjalanan kami melewati persawahan dengan padi yang mulai menguning. Sesekali tampak sekelompok burung yang terbang di halau oleh petani. Suasana asri khas pedesaan ini tentunya memanjakan mata kami.

Baca Juga : Kuy ! Ke Berastagi Yang Kaya Destinasi

Sesampainya di titik kumpul, kami parkirkan sepeda motor dan memulai hiking. Jalan yang kami lalui adalah jalan setapak berupa turunan menuju arah pantai. Hutan tidak terlalu lebat. Sesekali kami berhenti di sungai kecil yang berair jernih. Di sungai kecil ini banyak sekali udang air tawar, tapi karena kami tujuannya hendak ke pantai, jadi kami abaikan udang-udang yang seolah siap untuk ditangkap.

Peluh kami mulai mengalir deras. Wangi hutan basah berpadu dengan aroma tubuh kami. Tak terasa nyaris 1 jam kami bejalan di dalam hutan. Hingga akhirnya suara deburan ombak terdengar sebagai penanda kami telah dekat dengan pantai. Rasa khawatir kesasar sirnalah sudah. Kami makin semangat. Langkah kami semakin cepat. Hingga tepat dihadapan kami sosok Kepala Naga seolah menyambut kedatangan kami. Selamat datang di pantai Lhok Keutapang Cut.


Baca Juga :Mi Lobster Aceh Lezatnya Rame-rame

Pantai Lhok Keutapang Cut

Meski kesannya klise, tetapi memang demikian adanya. Lelah yang kami rasa hilang seketika. Ombak pantai yang berkejaran seolah menyapa kedatangan kami. Sejenak kami berhenti dan tersenyum. Lalu masing-masing kami menikmati pantai dengan cara yang berbeda. Ada yang duduk terdiam, ada yang berlari ke pantai dan ada pula yang langsung berjalan melihat suasana sekeliling pantai. Saya sendiri mencari tempat untuk bersantai menikmati suasana alam yang mempesona.

Pantai Lhok Keutapang Cut ini sangat eksotik. Tampak bebatuan dari yang kecil di tepian pantai, hingga yang tinggi menjulang di bibir pantai. Kondisi pantai yang bertebing batu memang pas untuk lokasi memancing. Ombak besar tak henti-henti menghantam tebing batu. Dengan kondisi seperti ini, jelas sudah jika pantai ini kurang cocok untuk aktifitas mandi di pantai.

Pantai ini mempunyai tempat untuk mendirikan tenda. Walaupun tempatnya tidak terlalu luas. Sepertinya belum lama ada yang berkemah di tempat ini. Kayu sisa api unggun bertebaran di sekitar kami.

Menyapa Kepala Naga

Yang menarik dari pantai ini adalah tebing batu di sudut pantai. Tebing batu tersebut menyerupai sosok kepala naga. Tampak indah dan penuh makna. Kami mencoba untuk mendekatinya, tetapi berkali-kali ombak besar menghalangi langkah kaki kami.

Oiya sahabat lasak, beberapa waktu sebelum kami menjelajahi pantai Lhok Keutapang Cut ini, ada 2 orang mahasiswa yang hilang saat sedang memancing di Lhok Keutapang Cut. Sampai hari ini keberadaanya belum di ketahui. Sengaja cerita ini kami pendam agar ketakutan tidak menyelimuti perasaan kami. Beritanya bisa sahabat lasak baca di sini ya 👇👇👇:

News : Dua Mahasiswa Hilang di Lhok Keutapang Cut 3/8/19

News : Dua Mahasiswa Hilang di Lhok Keutapang Cut 9/8/19 

Yang terjadi biarlah terjadi. Sudah menjadi takdir Allah. Angin kencang yang datang tiba-tiba di iringi hujan rintik membuat kami enggan untuk diam berlama-lama. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Suara gelegar ombak mengiringi kami meninggalkan pantai ini

Sungguh ciptaan Tuhan maha sempurna. Tugas kitalah untuk menjaga pantai ini agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi kita semua.

Minggu, 08 Maret 2020

“Lasaklah …  sebanyak,  sebisa dan sejauh mungkin,  karena hidup bukan diam di satu tempat”

Kaki Lasak : Travel & Food Blogger




 



Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Kaki Lasak
Instagram kaki lasak
Website : kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131