” Oiii… Soe di sinan? ” (“Oii… Siapa di sana?”)
Mata kami sontak tertuju ke arah suara. Tampak sosok lelaki kekar dengan parang ditangannya mendekati kami.

” Lon Yasir, kamoe dari Banda Aceh pak “ (“Saya Yasir, kami dari Banda Aceh pak”)

” Peu peuget di sinan?, bek macam-macam, bek berangkaho cok foto dan bek melewat ria “ (“Sedang apa di situ?, jangan macam-macam, jangan sembarangan ambil foto dan jangan kelewat ria”)

” Geut pak, kamoe tengoh maen-maen manteng bak kulam nyoe “ (“Baik pak, kami sedang main-main saja di kolam ini”).

Lelaki kekar itupun pergi ke arah hutan, meninggalkan kami yang gugup ketakutan.

Telaga biru Mon Ceunong, begitulah namanya. Sebuah surga kecil yang berada di desa Aneuk Glee, kecamatan Indrapuri, kabupaten Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam. Telaga ini sempat populer di kalangan anak muda Aceh. Sejak kemunculannya di media sosial, tempat ini langsung diserbu pengunjung. Mereka datang dari berbagai penjuru Aceh. Tapi kepopuleran tersebut tidaklah lama. Telaga biru ini ditutup untuk wisatawan. Penutupan ini bermula akibat terjadinya konflik antara beberapa warga desa dengan sekelompok pengunjung. Kabarnya pengunjung tersebut tidak mengindahkan nasihat penduduk setempat untuk tidak terlalu ria dan berdua-duaan. Sejak itulah, telaga biru Mon Ceunong ditutup. Penduduk desa menebangi pohon disekitar lokasi dan memasukkan kayu dan ranting pohon ke dalam telaga. Telaga yang tadinya cantik, seketika menjadi porak poranda.

Waktu terus berlalu. Sang telaga tidak lagi terdengar. Dalam hati, saya masih penasaran dengan sang telaga karena belum sempat pergi ke sana. Hingga akhirnya sahabat saya Yasir mengajak saya untuk ke telaga biru Mon Ceunong ini. Wah, ajakan tersebut langsung dong saya iyakan. Cihuy .. !!!

Banda Aceh – Mon Ceunong

Sabtu pagi yang cerah mengiringi perjalanan kami dari Banda Aceh menuju Mon Ceunong. Kali ini kami berangkat berempat, yaitu saya, Yasir, Fakar dan seorang teman. Sepeda motor kami melaju dengan santai. Rute perjalanan kami, dari Banda Aceh menuju Indrapuri. Oiya sahabat lasak, kami berempat belum ada yang pernah pergi ke lokasi loh, jadi perjalanan kami berdasarkan informasi di media sosial dan tentu saja dibantu google map.

Perjalanan dari Banda Aceh ke Indrapuri tidak terlalu jauh, yaitu kurang lebih 26 km atau sekitar 40 menit. Lokasi pertama yang menjadi patokan kami adalah Simpang pesantren Tengku Chiek Oemar Diyan. Setelah sampai di simpang ini, kami di arahkan penduduk setempat untuk berbelok ke arah kanan. Dari sinilah jalan mulai tidak mulus dan medan semakin sulit. Belum lama kami berjalan, kami dihadang oleh kerumunan sapi peternakan. Cukup lama juga kami menunggu sapi-sapi tersebut berlalu.

Perjalanan semakin menanjak dan berbatu. Kami juga melewati dua buah anak sungaii yang lumayan deras. Belum lagi debu jalanan yang menerpa wajah kami. Sepeda motor metic yang kami bawa agaknya sedikit kewalahan menghadapi medan jalan yang penuh liku ini. Tak jarang kami yang duduk dibonceng harus turun demi mengurangi beban kendaraan.

Jalanan semakin sepi dan tidak ada pentunjuk arah. Saat itu kami hanya mengandalkan perasaan. Sempat juga kami berpapasan dengan beberapa kendaraan yang membawa kayu dari hutan. Sebagian penduduk memang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan. Beruntung kami berjumpa dengan beberapa penduduk yang sedang beristirahat dari menebang kayu. Dari mereka kami diberi petunjuk jalan menuju Mon Ceunong. Rupanya kami telah kelewatan jauh masuk hutan.

Dalam perjalanan kami dikejutkan oleh seekor Kelabang yang melintas di tengah jalan. Ukurannya cukup besar. Saya yang jarang melihat binatang ini berhenti sejenak untuk memperhatikan gerak-gerik binatang berbisa ini.

Sesuai arahan penebang pohon tadi, kami memarkirkan kendaraan kami di tepi jalan. Selanjutkan kami berjalan kaki masuk ke hutan yang tak jauh dari sisi jalan. Belum jauh kami berjalan, kami menjumpai aliran sungai yang penuh dengan bebatuan. Bebatuan ini sangat licin. Saya hampir saja jatuh terpeleset karena kurang hati-hati.

Baca juga : Menjalin Persahabatan di Bukit Jalin

Sahabat lasak, wangi hutan dan suara-suara alam mengiringi perjalan kami menyusuri sungai. Suasana inilah yang membuat perjalanan tidak terlalu berat. Kami sangat menikmati perjalanan ini.

Jamur kayu berwarna putih ini salah satu jenis jamur yang kami jumpai saat menyusuri sungai.

Di tengah perjalanan, kami beristirahat sejenak di atas sebuah batu yang cukup luas. Di sisi kami, ada sebuah aliran air yang membentuk kolam kecil berwarna kebiruan. Didalamnya tampak ikan-ikan kecil berenang kesana kemari. Melihat suasana ini kami yakin bahwa telaga biru Mon Ceunong sudah dekat. Kami semakin semangat untuk melanjutkan perjalanan.

Dugaan kami benar, Yasir yang berjalan terlebih dahulu berteriak memberi kabar bahwa kami telah sampai. Alhamdulillah, akhirnya salah satu tempat yang sudah lama saya incar, berhasil saya kunjungi.

Telaga Biru Mon Ceunong

Sebuah telaga yang berwarna biru tosca terlihat begitu eksotik. Meski telaga ini dipenuhi kayu-kayu sisa konflik, keindahannya tidak bisa disembunyikan. Telaga ini tidak terlalu luas. Sumber airnya mengalir dari bebatuan di tepian telaga. Pemandangan ini membuat saya tertegun takjub. Betapa Tuhan telah memberikan nikmat alam yamg indah ini, sepatutnyalah kita bersyukur dan menjaga pemberian_Nya.





Baca juga : Habis Pesta Langsung Nge-BIR (Binahal Indah Resort)

Saya tidak tau pasti, tetapi jika melihat bentuk bebatuan dan warna birunya, kemungkinan air telaga ini mengandung belerang. Telaga biru Mon Ceunong ini cukup dalam. Dasar telaga pun tak terlihat. Menurut warga sekitar, air telaga ini berasal dari pegunungan Indrapuri. Jika kita telusuri lebih jauh lagi, sumber airnya berasal dari air terjun di kawasan perbukitan Kutamalaka.

Di telaga ini hanya ada kami. Sahabat saya Yasir sempat mencoba berenang di dalam telaga dan menyusuri bebatuan di sekitarnya. Fakar dan kawannya asik berfoto di tepian sungai. Sedangkan saya hanya mengamati dan sesekali berfoto. Untuk mandi saya kurang berani, selain tidak terlalu pandai berenang, saya juga tidak membawa baju ganti. Kami semua asik menikmati keindahan telaga biru Mon Ceunong. Hingga akhirnya sosok lelaki kekar datang menghampiri kami. Ia mengingatkan agar tidak mengambil foto sembarangan dan tidak terlalu ria. Terkait larangan mengambil foto ini saya kurang begitu faham. Saya hanya mengira-ngira saja, mungkin terkait aktifitas mereka menebang kayu di hutan ini. Entahlah.

Sahabat lasak, di satu sisi tempat wisata yang dikelola bisa menambah pendapatan daerah setempat. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa membuat alam menjadi rusak. Banyak sekali contoh tempat wisata yang menjadi kotor dan tidak alami lagi. Biasanya pengelola hanya mengutamakan uang masuk dan mengabaikan kebersihannya. Untuk itu, peran pemerintah sangat diperlukan dalam membina kawasan wisata dengan mengindahkan kearifan lokal. Tentunya diperlukan pendekatan yang baik dengan masyarakat lokal agar tumbuh kawasan wisata yang sehat dan memberikan nilai tambah perekonomian masyarakat.

Potensi wisata di Aceh sangatlah banyak. Tidak hanya pantai dan pulaunya yang indah, pesona hutan dan perbukitan di Aceh juga sangat menarik. Kearifan lokal sebenarnya bukanlah kendala untuk kemajuan pariwisata di Aceh, justru bisa menjadi daya tarik tersendiri. Dan yang tidak kalah penting adalah kesiapan penduduk dalam menghadapi wisatawan yang berkunjung.

Tulisan ini pernah saya tulis juga dalam flatform steemit.com dengan judul  : Menyapa Telelaga Biru Mon Ceunong

Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga industri pariwisata yang saat ini terpuruk, bisa kembali bangkit. Stay safe and stay at home.

Minggu, 29 Maret 2020

“Jangan lasak dulu ya, di rumah lebih baik”

Kaki Lasak : Travel & Food Blogger




 



Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Kaki Lasak
Instagram kaki lasak
Website : kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131