“Saya fikir ini bukit biasa, tetapi setibanya di puncak, ternyata luar biasa. Hamparan ilalang nan hijau dan  hembusan angin sepoi-sepoi langsung menghilangkan rasa penat, rasa haus, rasa lapar, dan rasa-rasa lainnya,  kecuali rasa sayang kepadamu, ahaiii auto garing”.

Peu Haba sahabat lasak? Di tengah pendemi covid-19,  semoga kita terhindar dari penyakit dan  sehat-sehat selalu ya. Ini adalah ujian dan selalu ada hikmah didalamnya. Kita harus tawakkal atas musibah ini. Ikuti saja anjuran pemerintah, anjuran tokoh agama dan anjuran bos kantor. Untuk saat ini lebih baik di rumah saja dulu. Setuju dong :).

Saya merasa beruntung bisa tinggal di Banda Aceh. Di sini tempat hiburan sangat banyak. Ada pantai, sungai, bukit, air terjun dan banyak sekali tempat alami yang jarang saya jumpai di tempat lain. Jadi tinggal di Banda Aceh itu tidak monoton dan tidak membosankan. Hal ini mungkin berbeda dengan anggapan orang-orang di luar sana yang menganggap di Aceh kurang hiburan.

Setiap akhir pekan saya dan kawan-kawan merencanakan perjalanan wisata. Dari tempat wisata yang dekat dan ramai hingga tempat jauh tersembunyi. Nah, cerita lasak kami kali ini ke sebuah bukit yang tidak terlalu jauh dari kota Banda Aceh. Bukit ini bernama Bukit Jalin, sebuah bukit nan indah yang berada di desa Jalin, Kecamatan Jantho, kabupaten Aceh Besar, Nagroe Aceh Darussalam.

Baca Juga : Habis Pesta Langsung Nge-BIR (Binahal Indah Resort)

Agenda jalan di Akhir Pekan

Di Aceh saya bergabung dengan komunitas pejalan yang bernama Aceh Backpacker (ABP). Hampir setiap malam kami duduk bareng di kedai kopi. Biasanya kami membahas agenda perjalan wisata. Seperti malam itu, beberapa anggota ABP berencana menghabiskan akhir pekan di Bukit Jalin. Saya langsung dong antusias dan mengajukan diri untuk ikut serta bersama 10 orang lainnya. Mereka adalah Saiful, Awi, Zul, Kadek, Aji, Putri, Zaki, Rikaz dan 2 orang lainnya yang saya belum kenal. Setiap perjalanan memang ada saja kawan baru. Inilah salah satu senangnya berkomunitas, kawan sehobi makin banyak.

Inilah geng Bukit Jalin ABP. Ada yang masih mahasiswa, ada yang karyawan dan ada juga seorang wiraswasta. Tapi perbedaan tadi justru menyatukan. Oiya, berhubung tidak ada tripot jadi saya sebagai juru foto sehingga tidak ada dalam frame hehe.

Sahari sebelum berangkat, persiapan kami sudah 95%. Simpel saja sih, kami menentukan waktu dan lokasi titik kumpul, transportasi serta perbekalan. Tidak ada pakaian khusus atau syarat-syarat tertentu, yang penting badan sehat.

Banda Aceh – Jantho

Pukul 8 pagi sebagian dari kami sudah berkumpul di simpang empat Lambaro. Kami menggunakan kendaraan sepeda motor. Setelah menunggu 1 jam dan peserta sudah lengkap, barulah kami bergerak konvoi menuju Jantho.  Jantho adalah ibukota kabupaten Aceh Besar. Dari Banda Aceh ke Jantho jaraknya kurang lebih 60 km. Perjalanan kami santai saja, sehingga perjalanan memakan waktu kurang lebih 90 menit. Leader perjalanan kami adalah Putri. Dialah satu-satunya yang pernah ke Bukit Jalin.

Inilah sosok Putri yang menjadi leader kami. Jangan dilihat dari tampangnya yang imut dan girly ya, soal fisik dan kepemimpinannya jangan ditanya, TOP BGT, sori wajahnya di hidden hehe.

Sesampainya di kota Jantho kami istirahat sambil belanja bekal seperti air mineral, makanan ringan dan bensin kendaraan. Setelah kurang lebih 30 menit kami melanjutkan perjalanan menuju desa Jalin. Kami masuk ke pelosok desa yang jaraknya kurang kebih 15 km. Semakin ke dalam, jalan yang kami lalui semakin sempit dan sepi. Hingga akhirnya sampailah kami di kaki Bukit Jalin. Kendaraan kami parkir di sebuah lahan kebun warga dengan membayar jasa parkir 5K/ sepeda motor. Lets go guys, mari kita mendaki :).

Baca juga : Sosok Kepala Naga di Lhok Keutapang Cut

Mendaki Bukit Jalin

Bukit Jalin ini tidak terlalu tinggi. Jalur pendakian pun sudah tersedia. Kita hanya mengikuti jalan setapak yang menuju ke puncak. Kami bersebelas tentu mempunyai fisik dan karekter yang berbeda. Kita gak boleh egois dong, jadi harus saling tunggu dan support. Saya termasuk yang cepat sekali lelah, sebentar-sebentar harus berhenti, untungnya banyak yang menyemangati dan menghibur, sehingga perjalanan menjadi sedikit lebih ringan.

Sahabat lasak, pemandangan alam sepanjang jalur pendakian sangatlah indah. Ada sungai dan perbukitan yang tampak berada di bawah kita. Setiap ada kesempatan, kami berhenti sejenak untuk berfoto. Saya takjub melihat indahnya pemandangan selama jalur pendakian. Perpaduan sungai dan bukit terlihat seperti lukisan. Sungguh ciptaan Allah yang sangat sempurna.

Sepanjang jalur pendakian Bukit Jalin, tidak banyak pohon-pohon besar yang kami jumpai. Semakin ke puncak, justru didominasi oleh tumbuhan rendah seperti ilalang.

Selamat Datang di Bukit Jalin

Setelah mendaki selama 1 jam akhirnya kami sampai ke puncak Bukit Jalin. Posisi matahari tepat berada di atas kepala kami. Wajah kami yang terpapar sinar matahari serta peluh yang membasahi tubuh tak mengurangi kegembiraan kami saat mencapai puncak. Teriakan kegembiraan serta lompatan kecil adalah penanda keberhasilan kami menaklukkan Bukit Jalin. Terbayang selama perjalanan ada yang mengeluh, ada yang mengomel, ada yang ingin buru-buru sampai dan ada pula yang berjalan lambat seperti saya. Di atas puncak Bukit Jalin ini, justru yang ada hanyalah rasa kebersamaan.

Hamparan hijau rumput ilalang laksana permadani yang terhampar. Puncak Bukit Jalin ini bernama Bukit Seumeureugui. Bukit ini merupakan salah satu dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan Sumatra. Perbukitan ini masuk dalam kawasan Hutan Lindung Ulu Masen yang berbatasan langsung dengan 3 kabupaten, yaitu Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Pidie.

Sahabat lasak, ada cerita tentang masa lalu bukit ini. Tentu sahabat semua pernah mendengar tendang adanya Gerakan Aceh Merdeka atau disingkat GAM di bumi serambi Mekkah ini. Bukit Jalin ini pernah menjadi basis GAM di masa konflik Aceh. Lalu Pasca perdamaian Aceh dengan GAM, yaitu kira-kira tahun 2009 sampai 2010, lokasi Bukit Jalin ini juga pernah dijadikan tempat para teroris berlatih. Salah satu pelaku teroris yang kemudian tewas dalam kasus BOM dan penembakan di Sarinah, Jakarta pada tanggal 14 Januari 2016 lalu, yang bernama Afis alias Sunakin, pernah berlatih menembak di Bukit Jalin ini.

Kini masa telah berubah. Aceh telah damai dan aman. Bukit Jalin yang dulunya basis GAM dan tempat teroris berlatih, kini menjadi salah satu tempat wisata di kabupaten Aceh Besar. Meskipun lokasi ini belum di kelola dengan baik, tetapi potensi yang dimiliki bisa untuk menarik wisatawan lokal sampai wisatawan internasional.

Referensi

Ingin rasanya berlama-lama berada di atas bukit, tetapi kami berpacu juga dengan waktu. Kami melangkah turun bukit sambil tersenyum bahagia. Cuaca yang tadinya panas seketika berubah berawan dan hujan. Setibanya di bawah, agenda kami lanjutkan dengan beristirahat di sungai yang berada tepat di bawah jembatan Krueng Jalin. Sebagian dari kami mandi di aliran sungai sedangkan saya memesan makanan di sebuah kedai yang ada di dekat kami istirahat.

Sahabat lasak, menikmati keindahan alam ciptaan-Nya, seyogianya membuat kita makin bersyukur kepada Tuhan. Lepaskan rasa ria dan egoisme. Jangan sampai alam yang indah ini justru menjadi tempat maksiat yang akan merugikan kita semua.

Selasa, 24 Maret 2020

“Jangan lasak dulu ya, di rumah lebih baik”

Kaki Lasak : Travel & Food Blogger




 



Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Kaki Lasak
Instagram kaki lasak
Website : kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131