“Bagi yang punya pacar, begitu bangun tidur langsung cari hape, kali aja ada pesan yang masuk dari si dia, lah kamu yang jomlo bangun tidur cari hape mau liat apa? Sabar ya mblo, Belanda masih jauh, jadi mending langsung cuci muka aja haha…”


Hallo sahabat lasak, itu tadi hanya intermezo saja, jadi jangan pada baper ya. Saya doakan semoga yang jomlo segera dapat pasangan, amiin. Nah, cerita yang akan saya share kali ini adalah perjalanan saya ke sebuah kawasan yang sudah mainstream banget bagi orang Medan. Meski demikian,  kawasan ini tak pernah sepi pengunjung loh. Bahkan bagi pelancong yang datang dari luar Medan, kawasan ini jadi destinasi wajib untuk dikunjungi. Namanya Berastagi, sebuah kawasan yang kaya akan destinasi wisata yang berada di tanah Karo, Sumatra Utara.

Nama Berastagi atau yang kadang di tulis dengan Brastagi ini merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Karo. Sejak dulu, Berastagi sudah menjadi kawasan wisata yang terkenal dengan udaranya yang sejuk.  Meski jaraknya hanya -+ 66 km dari kota Medan, biasanya kita akan tempuh dengan berkendara selama +- 1.5 jam. Hal ini karena lalu lintas jalan yang padat dan banyak jalan tanjakan yang berkelok-kelok.

Perjalanan saya ke Berastagi kali ini menemani Parwis, yang datang jauh-jauh dari Aceh. Berhubung kedatangannya ke Medan waktunya terbatas, jadi saya ajak dia berwisata ke Berastagi dan sekitarnya. Saya juga mengajak istri saya dan juga Fahmi. Mau tau kami pergi kemana saja?  Lanjut baca ya 🙂

1. Penatapan Brastagi

Sengaja kami berangkat belum sarapan pagi, karena kami ingin sarapan di ketinggian -+1300 mdpl, tepatnya di Penatapan Berastagi. Penatapan Berastagi ini berada di tepi jalan Jamin Ginting Km 55. Lokasi ini berupa kedai  tempat peristirahatan yang menyajikan panorama perbukitan. Ada puluhan tempat singgah yang bisa kita pilih.

Kami singgah di salah satu kedai yang cukup besar dan mempunyai pemandangan yang lumayan bagus. Menikmati mie rebus dan jagung bakar memang pilihan yang tepat. Perut kenyang dan mata pun puas melihat pemandangan alam perbukitan  nan hijau.

2. Taman Lumbini

Lepas sarapan di Penatapan Berastagi, kami lanjutkan perjalanan ke destinasi yang kedua, yaitu Taman Lumbini. Area taman ini sebenarnya sangat luas, tapi yang kami kunjungi hanya bagian Pagoda Taman Lumbini yang merupakan tempat ibadah agama Budha. Kawasan ini dijadikan sebagai kawasan wisata dan terbuka untuk umum. Masuk kawasan ini gratis loh.


Bagi yang belum tau, mungkin foto kami di atas dikira sedang berada di Pagoda Shwedagon Myanmar. Karena memang Pagoda Taman Lumbini adalah replikanya. Hebatnya lagi, Pagoda Taman Lumbini ini merupakan replika Pagoda Shwedagon Myanmar terbesar kedua di dunia. Bagi kamu yang mau ke sini, alamatmya ada di Desa Tongkoh, Kecamatan Dolat Rakyat, Berastagi, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

3. Air Terjun Sipiso-piso

Lanjut lagi ke destinasi berikutnya, kami menuju ke air terjun Sipiso-piso. Dari Berastagi perjalanan memakan waktu -+1 jam perjalanan, melewati Kaban Jahe dan simpang Merek. Sesampainya di lokasi air terjun, hujan turun sangat deras. Kami berteduh disalah satu kanebo. Cuaca dingin di tambah lagi hujan, membuat kami menggigil dan badan rasanya seperti mau membeku huhu.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya hujan reda. Air terjun ini berada di desa Tongging, kecamatan Merek, kabupaten Karo, Sumatra Utara. Air terjun ini berasal dari sungai Pajanabolon yang langsung terjun ke bawah secara vertikal sempurna dan airnya mengalir ke danau Toba. Tinggi air terjun ini kurang lebih 120 meter di atas ketinggian +- 1.300 mdpl dan termasuk air terjun tertinggi di Indonesia. Kami cukup menatap air terjun Sipiso-piso dari atas, waktu yang terbatas dan juga nyali kami belum cukup untuk melangkahkan kaki ke bawah air terjun.

4. Tongging Danau Toba

Tak jauh dari penatapan air terjun Sipiso-piso, kami berjalan kaki ke arah bawah lokasi wisata. Lokasi ini salah satu tempat terbaik untuk menatap pemandangan danau Toba. Jika sahabat lasak punya uang nominal pecahan kertas seribu tahun 1992, pemandangan danau Toba dari sisi desa Tongging inilah yang menghiasi uang tersebut.

Pemandangan danau Toba dan desa Tongging memang sangat indah. Desa yang dikelilingi perbukitan ini merupakan bagian dari geopark danau Toba yang sudah mendunia. Desa Tongging ini berada di sisi utara danau Toba yang berbatasan langsung dengan kabupaten Dairi dan kabupaten Simalungun. Di sini kami hanya menatap Tongging dan danau Toba dari kejauhan.

5. Taman Bunga Sapo Juma

Masih di kawasan Sipiso-piso, kami berbelok ke sebelah kanan jalan, tepatnya di kawasan hulu sungai air terjun Sipiso-piso. Di kawasan yang subur ini selain ditanami sayuran oleh petani, juga manfaatkan oleh beberapa pelaku wisata sebagai taman bunga. Kawasan taman bunga ini bernama Sapo Juma. Beberapa pengelola menyediakan tempat untuk berfoto. Kita tinggal memilih di salah satu tempat dengan membayar tiket masuk kisaran 10.000 hingga 25.000 rupiah.


Ala-ala film India, kita bisa berputar-putar di dalam taman bunga Sapo Juma. Bunga yang berwarna-warni menghiasi setiap sudut taman. Sebagian besar adalah bunga Kenikir dan bunga Celosia yang beraneka warna. Di taman ini kami cukup lama, tak ada puasnya berfoto dengan aneka gaya. Hahay…

6. Pasar Buah Brastagi

Hari beranjak petang, kami kembali ke Berastagi. Pasar Berastagi adalah destinasi terakhir kami. Pasar ini tidak hanya menyediakan sayuran dan buah-buahan segar, tetapi banyak juga toko souvenir dan toko tanaman hias. Aktifitas berkuda ke bukit Gundaling pun bisa jadi pilihan. Oiya sahabat lasak, kami di Sumatra Utara menyebut pasar dengan Pajak. Jadi jangan heran jika nanti mendengar ucapan pajak buah dan pajak sayur Berastagi, hehe.


Jika sudah melihat buah-buahan segar gini, gak tahan rasanya untuk tidak membeli. Buah Markisa danTerong Belanda adalah buah yang wajib dibeli. Selain untuk dimakan sendiri, juga buat oleh-oleh handai taulan di Medan. Finally kami kembali ke Medan, menyusuri jalan berkelok serta macetnya kondisi sepanjang jalan menuju Medan.


Sahabat lasak, sebenarnya masih banyak loh destinasi wisata yang ada di Berastagi, sebutlah pemandian air panas Sidebuk-debuk, wisata petik sendiri buah jeruk dan buah strawberi, danau Lau Kawar dan mendaki gunung api Sibayak. Tinggal kita sesuaikan saja dengan waktu dan juga kesukaan kita.

Nah, buat sahabat lasak yang mau ke Berastagi dan gak mau bermalam, mungkin perjalanan saya ke Berastagi ini bisa jadi salah satu referensi. Cusss… jalan-jalan :).

Rabu, 19 Februari 2020

“Lasaklah …  sebanyak,  sebisa dan sejauh mungkin,  karena hidup bukan diam di satu tempat”

Kaki Lasak : Travel & Food Blogger




 



Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Kaki Lasak
Instagram kaki lasak
Website : kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131