Panggilan jiwa di pagi buta, membuat saya terpaksa bangun dan meninggalkan tenda menuju pantai. Saya berjalan dalam kegelapan diiringi desiran angin dan deru ombak. Rasa takut dan dinginnya udara pagi sudah tidak saya hiraukan. Setelah mendapatkan tempat yang pas, saya mulai menggali pasir untuk menunaikan hajat pagi. Tapi, belum sempat saya membuka celana, tiba-tiba cahaya senter menyorot ke wajah saya. “Woy… jangan dekat-dekat, jauh-jauh sana !!”. Alamak…, saya fikir cuma ada saya seorang, ternyata ada juga si kawan yang sudah duluan buang hajat. Kaplingannya tidak jauh pula dari tempat saya. Tanpa fikir panjang, saya langsung menjauh, sejauh-jauhnya.

Sahabat lasak pernah dongΒ  camping alias berkemah? yah… kalau belum, sesekali deh coba. Apalagi bareng kawan kompak, pasti tambah seru. Seperti yang akan saya ceritakan ini, yaitu keseruan camping pertama saya bersama kumunitas Aceh Backpacker. Saya sangat antusias mengikutinya. Apalagi ada beberapa kawan baru yang turut serta.

Seperti cerita yang sudah-sudah, rencana bermula di kedai kopi tempat kami mangkal. Tersebutlah pantai “rahasia” para pemancing yang bernama Ujong Batee Puteh (Ujung Batu Putih) atau sering juga disebut dengan nama Buket Puteh (Bukit Putih). Lokasinya berada di km 45 Jl. Laksamana Malahayati, desa Beurenut, kecamatan Seulimum, kabupaten Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam. Melihat keindahannya dalam gambar, kami memutuskan untuk berkemah di lokasi tersebut. Yeayy…

Mari Berkemah

Sejak pagi saya sudah menyiapkan keperluan berkemah. Meski cuma menginap satu malam, tetapi segala sesuatunya harus dibawa. Ada baju ganti, jaket, alat mandi dan alat shalat. Saya memang menghindari pinjam meminjam barang alias merepotkan orang lain. Sepeda motor pun harus dalam kondisi baik. Partner berkendara saya adalah Khairil Huda Pelis. Beliau inilah sahabat pertama saya di Banda Aceh. Lepas ashar, kami berangkat ke rumah Bahrul yang menjadi titik kumpul kami.

tim pantai ujong batee

Dari kiri ke kanan (berdiri) : Imam, Khairil, Ichlas, Rozi, Fakhri, Bahrul, (duduk) : Saya, Zaki dan Joel.

Kami bertujuh memulai perjalanan dari rumah Bahrul yang tak jauh dari Simpang Mesra kota Banda Aceh. Jarak dari Banda Aceh ke Ujong Batee Puteh kurang lebih 70 km. Rute jalan yang kami lalui adalah arah ke Ujong Batee terus sampai Lamreh. Setelah simpang Lhokmee, kami lurus saja hingga sampai ke persimpangan jalan berbatu menuju pantai Ujong Batee Puteh.

Sunset di Blang Ulam

Sebelum kami sampai di lokasi, kira-kira 5 km setelah melewati simpang Lhokmee, Khairil mengajak saya ke pantai Blang Ulam. Saya sendiri baru mendengar nama pantai ini. Menurut Khairil pantai ini salah satu tempat terbaik melihat matahari terbenam. Tanpa sepengetahuan kawan yang lain, kami berbelok arah menuju pantai. Jalan yang kami lalui adalah jalan berbatu dan melewati kebun penduduk. Kami agak kesulitan menuju pantai karena tidak ada tanda jalan. Menurut salah seorang penduduk yang kami jumpai, untuk sampai ke pantai, kami harus masuk ke kawasan tambak ikan. Beruntung setelah meminta izin, kami diperbolehkan memasuki tambak menuju ke pantai.

pantai ujong batee

Saya terkesima melihat keindahan pantai ini. Pantai berpasir putih ini sangat alami. Barisan pohon bakau laut yang disebut warga setempat pohon Geurumbang, menambah keindahan pantai. Kala itu ombak sangat tenang. Saya menghampiri dua orang pemuda yang sedang menjala ikan. Menurut mereka, tempat ini memang bukan kawasan wisata. Biasanya yang datang adalah para pemancing. Saya dan Khairil duduk di tepi pantai sambil menunggu matahari terbenam. Benar kata Khairil, drama sunset di pantai Blang Ulam memang terbaik πŸ’–.

mangrove pantai ujong batee

Rupanya, rombongan sudah sampai di pantai Ujong Batee Puteh. Mereka sejak tadi menghubungi, tetapi pesan di telepon terlambat sampai karena sinyal di kawasan ini kurang bagus. Lepas melihat sunset, saya dan Khairil langsung bergegas menyusul rombongan ke lokasi camping.

Patokan menuju Ujong Batee Puteh adalah sebuah menara telepon selular yang berada di sisi kiri jalan utama. Di samping menara tersebut kita berbelok ke kiri, menyusuri jalan tanah yang berbatu. Jalanan ini tidak terlalu jauh, yaitu +- 2 km.

Malam Api Unggun

Begitu kami sampai di lokasi, mereka sedang mendirikan tenda. Posisi tenda kami di tepi jalan yang tak jauh dari pantai. Di dekatnya ada aliran sungai, meski tidak terlalu besar. Sisi kiri dan kanan kami adalah bukit Ujong Batee Puteh. Posisi yang sangat sempurna. Saya dan Khairil langsung bergabung membantu mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri kokoh, kami mencari kayu bakar untuk membuat api unggun. Tidak terlalu sulit mencarinya karena di sekitar pantai banyak sekali kayu.

api unggun pantai ujong batee

Kami duduk mengelilingi api unggun sambil menikmati makan malam dan secangkir kopi. Kebersamaan ini membuat saya lebih mengenal karakter sahabat-sahabat saya. Ada yang lucu, ada yang suka bercerita, ada yang pendiam dan ada juga yang sibuk membuatkan kami kopi. Sesekali kami saling mengejek hingga akhirnya tertawa bersama. Yang pasti mereka tidak pelit sharing tentang perjalanan mereka di Aceh, di luar Aceh maupun di luar negri. Oiya, malam itu kami kedatangan bang Dedek yang ikut bergabung. Malam semakin larut, ombrolan semakin sepi. Kami pun tertidur dibawah taburan bintang.

Sunrise di Ujong Batee Puteh

Sahabat lasak, acara kami pagi hari adalah melihat matahari terbit alias sunrise. Untuk melihatnya kami naik ke bukit yang berada di bagian sisi kiri kami. Bukit ini tidak terlalu tinggi dan jaraknya dekat. Walaupun cuaca agak mendung tetapi pemandangan matahari terbit di Ujong Batee Puteh ini terlihat indah πŸ’–.

indahnya pantai ujong batee

Setelah menikmati sunrise, kami mengeksplorasi bukit sambil berolah raga. Bukit ini tampak gersang. Tidak ada pohon yang tinggi. Mungkin karena tanah di kawasan ini terdiri dari batu kapur dan batu karang yang sangat keras. Bebatuan karang ini mungkin dulunya berada di dasar laut.

Dari kejauhan tampak gunung Seulawah Agam menjulang tinggi. Gagah sekali. Udara yang sejuk dengan pemandangan alam yang indah membuat kami betah berlama-lama di kawasan bukit ini.

tim pantai ujong batee

Sahabat lasak, di ujung tebing ada beberapa buah makan kuno. Makam-makam ini ukurannya sangat panjang. Kalau bentuknya panjang, biasanya adalah makam para Tengku atau Aulia yang mensyiarkan agama Islam di Aceh (Belum ada sumber informasi tentang makam ini).

makam panjang pantai ujong batee

 

Baca juga : Nasi Goreng Mengkudu, Ternyata Gampang & Enak

Keindahan Ujong Batee Puteh

Perut kami mulai lapar, kami kembali ke tenda untuk sarapan. Kebetulan sahabat kami Awi datang nyusul membawa sarapan. Kalau camping begini, makanan apapun rasanya sedap. Selesai sarapan, sebagian kawan langsung mandi di pantai. Sedangkan saya, Awi dan Rozi naik ke bukit yang ada di sebelah kanan kami. Sama seperti bukit sebelumnya, bukit ini tidak terlalu tinggi. Tebing bukit langsung menjorok ke laut. Jadi kita harus berhati-hati jika berada di pinggir tebing, apalagi tanah kapur ini agak rapuh dan mudah longsor.

Sahabat lasak, ternyata pemandangan di sisi kanan bukit ini tak kalah indah. Apalagi kondisi cuacanya kembali cerah. Awan yang biru menambah keindahan tebing Ujong Batee Puteh ini.

indahnya pantai ujong batee


indahnya pantai ujong batee


indahnya pantai ujong batee

Tidak seperti bukit yang ada di sisi kiri, bukit ini tidak terlalu gersang. Banyak sekali saya jumpai pohon Jamlang atau Juwed, yang dalam bahasa Aceh disebut Jambe Kling. Selain itu ada pohon yang kalau di Lampung disebut pohon Kumbang Pung. Buahnya bisa di lalap seperti Petai Cina.

jambe kling pantai ujong batee

Jambe Kling / Juwed/ Jamblang.

kumbang pung pantai ujong batee

Kumbang Pung (saya tidak tahu nama lainnya).

 

Baca juga : Dari Teluk Jantang, Pantai Saney, Hingga Sunset di Pantai Babah Kuala

Mandi di Laut

Puas menjelajahi bukit, kami bergabung dengan sahabat lainnya di pantai. Kami semakin ramai, karena ada lagi yang datang menyusul, yaitu bang Yudi beserta istri dan kedua anaknya. Hampir semuanya mandi di laut. Kebetulan ombak tidak terlalu besar sehingga aman untuk mandi-mandi. Saya termasuk yang tidak mandi. Saya cukup asik menikmati keseruan mereka menyelam, snorkeling dan berenang, sambil sesekali memotret keindahan pantai Ujong Batee Puteh.

mandi laut pantai ujong batee

Saatnya Pulang

Hari menjelang siang. Kami akhirnya bersiap untuk pulang. Tenda sudah kami bereskan. Sampah-sampah juga sudah kami amankan. Saya sangat menikmati perjalanan kami ini. Apalagi berkemah ditempat yang alami bersama para sahabat di komunitas Aceh Backpacker. Mereka semua sangat bersahabat.

tim pantai ujong batee

Sahabat lasak, kawasan Ujong Batee Puteh ini bukan tempat wisata yang sudah dikelola. Siapapun boleh datang atas izin pengurus kampung. Semoga keasrian Ujong Batee Puteh ini tetap terjaga, dijauhkan dari eksploitasi batu pasir, batu karang atau eksploitasi kekayaan alam lainnya yang bisa menimbulkan kerusakan alam.

tim pantai ujong batee

Jadi ingat peristiwa subuh tadi, ah… syudahlah πŸ˜€πŸ™

Senin, 01 Juni 2020

” Selama pandemi virus Covid-19, jangan lasak dulu ya, di rumah lebih baik”

Kaki Lasak : Travel & Food Blogger




 



Follow MeΒ :
SteemitΒ @kakilasak
FacebookΒ Kaki Lasak
InstagramΒ kaki lasak
Website :Β kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131