“Din !!!, tunggu woy…”

Khaeruddin terus saja mendaki dengan sangat cepat, jauh meninggalkan saya yang terengah-engah melangkah. Sesampainya di puncak bukit, ia tampak merebahkan tubuhnya pada hamparan rumput ilalang. Saya terus melangkah mengejarnya.


Begitu saya sampai di puncak, Khaeruddin tampak terbaring lemah dengan wajah yang pucat.


“Walah… Phengsaaannn ternyata”

Sahabat lasak, orang yang biasa berolahraga, belum tentu kuat loh ngebolang. Saya punya beberapa kawan yang aktif nge gym dan bersepeda. ternyata lemah saat trekking di alam. Jadi ada baiknya sebelum memutuskan ikut, kita mencari informasi dulu tentang lama perjalanan, kondisi jalan dan aktifitasnya. Kalau merasa gak sanggup, mending cancel join. Kondisi badan memang kita sendiri yang tau. Kalau dipaksakan takutnya malah jadi berbahaya.

Cerita lasak saya kali ini ke sebuah kawasan perbukitan di Aceh, yaitu Bukit Kutamalaka. Bukit ini masuk dalam gugus Bukit Barisan Sumatra. Di sini, tidak hanya keindahan bukit yang akan kita dapatkan, tetapi sekaligus melihat pesona air terjun tujuh tingkat yang dikenal dengan nama Air Terjun Kutamalaka. Kawasan ini berada di mukim Samahani, kecamatan Kutamalaka, kabupaten Aceh Besar, provinsi Aceh Darussalam. Pada masa konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kawasan bukit ini merupakan zona merah. Di sinilah markas GAM untuk wilayah Aceh Besar bearada. Tapi itu dulu, sekarang Aceh sudah damai dan aman untuk berwisata.

Persiapan Ngebolang

Waktu tinggal di Aceh, saya pernah ngontrak rumah bersama Khaeruddin. Beliau ini sebenarnya tidak suka jalan-jalan lasak, tetapi entah kenapa saat saya ajak ke bukit Kutamalaka dia semangat mau ikut. Berhubung kami berdua belum pernah pergi ke sana, jadi saya mencari rombongan lain di beberapa komunitas jalan Aceh. Beruntung ada 2 orang pemuda yang bersedia menjadi guide kami.

Perjalanan ke Bukit Kutamalaka

Minggu pagi, saya dan Khairuddin sudah siap dengan sepeda motor masing-masing. Titik kumpul perjalanan kami adalah simpang Samahani. Dari Banda Aceh ke simpang Samahani jaraknya +- 20 km, melalui jalan lintas Sumatra, Banda Aceh – Medan. Perjalanan kami memakan waktu +- 30 menit.  Sesampainya di simpang Samahani, kami meet up dengan guide dan langsung melanjutkan perjalanan menuju bukit Kutamalaka. Untuk sampai ke bukit Kutamalaka, jarak yang harus kami tempuh +- 25 km lagi. Pada 10 km pertama, jalanan yang kami lalui cukup bagus. Jalan selanjutnya adalah jalan tanah.  Ada 6 buah aliran sungai yang kami lalui. Salah satu sungai cukup dalam sehingga membuat sepeda motor saya mogok, huhu..

sungai kutamalaka

Pada 5 km terakhir, perjalanan sangat memacu andrenalin. Jalan yang kami lalui adalah tanah merah yang lengket dan licin. Jalanan pun menanjak dan berkelok-kelok. Beberapa kali saya kehilangan kendali, sehingga nyaris terpeleset masuk ke jurang. Beruntung pemandu sigap membantu kami sampai tiba di posko bukit Kutamalaka.

bukit kutamalaka

Kawasan Bukit Kutamalaka ini sudah dikelola, jadi sudah ada tempat parkir. Kita cukup membayar Rp. 5.000,-/ sepeda motor dan Rp. 5.000,-/orang.

Dari tempat parkir ini ada dua pilihan destinasi, yaitu naik ke bukit Kutamalaka atau turun ke balik bukit untuk melihat air terjun. Kami akhirnya memilih ke bukit Kutamalaka terlebih dahulu.

Bukit Kutamalaka

Bukit Kutamalaka tidak terlalu tinggi. Ia dipenuhi oleh rumput ilalang. Untuk mencapai puncak bukit, kita hanya mengikuti jalan setapak. Kondisi jalan lumayan terjal dan curam. Baru beberapa langkah saja, nafas saya sudah ngos-ngosan. Beberapa kali saya harus berhenti mengatur nafas. Berbeda dengan saya, Khairuddin terus melangkah nyaris tanpa henti. Sesekali ia terlihat setengah berlari. Khairuddin pun berhasil sampai di puncak terlebih dahulu. Meski berselang cukup lama, akhirnya saya sampai juga di puncak bukit Kutamalaka.

Indah sekali. Saya terpana melihat pemandangan bukit Kutamalaka. Hamparan sabana dan gugusan bukit pada ketinggian 600 mdpl ini, berpadu menghadirkan pesona alam yang memukau.

Bukit Kutamalaka I


Bukit Kutamalaka II

Matahari semakin tinggi. Siang itu cuaca cukup terik. Setelah puas berlarian di padang rumput sabana di puncak bukit Kutamalaka, kami bergegas turun menuju air terjun Kutamalaka.

Baca juga : Sedapnya Labakh Jagung Khas Lampung

Air Terjun Kutamalaka

Air terjun Kutamalaka sering disebut sebagai air terjun 7 tingkat. Untuk sampai air terjun, kita harus berjalan kaki  memasuki hutan sejauh +- 200 meter. Kondisi jalan sudah berupa tangga yang terbuat dari semen. Di kiri dan kanan jalan adalah pepohonan hutan yang masih lebat. Selama perjalanan kita ditemani suara burung dan tenggeret yang bersahut-sahutan. Suara hutan, suara alam.

Gemercik air mulai tedengar, bertanda air terjun sudah dekat. Kami mempercepat langkah karena tak sabar ingin segera merasakan sejuknya air terjun. Akhirnya kami sampai juga ke air terjun tingkat pertama. Pengunjung cukup ramai. Sebagian duduk santai di tepi air terjun.

Air Terjun TK I Kutamalaka

Tidak lama di air terjun tingkat pertama,  kami melanjutkan perjalanan ke air terjun tingkat dua. Lokasinya tidak terlalu jauh. Air terjun tingkat dua ini lebih tinggi dari air terjun tingkat pertama. Air kolam pun cukup luas dan berwarna kehijauan. Beberapa orang asik mandi di tepian kolam.

Air Terjun TK II Kutamalaka

Saya melanjutkan perjalanan ke air terjun tingkat tiga. Sedangkan Khairudin dan guide istirahat di air terjun tingkat dua. Air terjun tingkat tiga ini lebih tinggi lagi dan medannya cukup curam. Banyak sekali pengunjung yang berada di lokasi ini. Sebagian dari mereka naik di bebatuan dan melompat ke kolam. Seru 😀.

Air Terjun TK III Kutamalaka

Selanjutnya saya menuju ke air terjun tingkat empat. Air terjunnya tidak terlalu tinggi, tetapi kolamnya cukup luas. Di sini hanya beberapa orang saja yang berendam di kolam air terjun.

Air Terjun TK IV Kutamalaka

Kalau boleh menilai, air terjun tingkat lima adalah air terjun paling indah. Walau tidak terlalu tinggi, tetapi airnya tumpah melebar dan bertingkat-tingkat. Tak heran jika di sini ramai sekali pengunjung. Saya sempat cuci muka untuk merasakan kesejukan air terjun. Asli segar.

Air Terjun TK V Kutamalaka

Saya makin penasaran dan melanjutkan perjalanan ke air terjun tingkat enam. Jalan yang saya lalui semakin terjal dan licin. Sesampainya di air terjun, ternyata tidak ada orang. Air terjun tingkat enam ini ketinggiannya mirip dengan air terjun tingkat tiga. Mungkin karena kolamnya tidak terlalu besar dan lokasinya cukup jauh, jadi pengunjung enggan ke lokasi ini.

Air Terjun TK VI Kutamalaka

Menurut guide kami, air terjun tingkat tujuh jaraknya cukup jauh dan medannya lebih menantang. Berhubung waktu juga terbatas, akhirnya dari air terjun tingkat enam ini saya berbalik arah. Tak mengapa, dengan melihat 6 tingkatan air terjun saja saya sudah cukup puas dan takjub.

Baca juga : Keseruan di Ujong Batee Puteh

Perjalanan Happy Ending

Sahabat lasak, layaknya cerita happy ending, perjalanan kami yang cukup melelahkan ini, terbayar sudah oleh indahnya pemandangan bukit Kutamalaka dan air terjun 7 tingkat. Alam di provinsi terbarat Indonesia ini memang punya daya tarik tersendiri. Meski saat ini hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal, tetapi pesona alamnya tidak kalah dengan wisata internasional.

Senin, 15 Juni 2020

” Selama pandemi virus Covid-19, jangan lasak dulu ya, di rumah lebih baik”

Kaki Lasak : Travel & Food Blogger




 



Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Kaki Lasak
Instagram kaki lasak
Website : kakilasak.com
Youtube : Kaki Lasak Crew
Whatsapp +6282166076131